Ferdinand Hutahaen

Gagal Menjadi Teladan Memperberat Hukuman Ferdinand Hutahaean

Posted on
CopyAMP code CopyPlease update your ads.txt file with MGID lines. mgid.com, 302052, DIRECT, d4c29acad76ce94f


Jaksa menuntut penjara tujuh bulan bagi Ferdinand Hutahaen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutan hukuman penjara tujuh bulan kepada Ferdinand Hutahaean. Mantan politikus Partai Demokrat itu dinilai terbukti menimbulkan onar karena menyebarkan berita bohong di media sosial (medsos).

JPU memandang perbuatan Ferdinand sudah menciptakan keresahan di masyarakat. Ferdinand juga dianggap gagal menjadi teladan masyarakat padahal berstatus sebagai tokoh publik.

“Hal-hal yang memberatkan terdakwa adalah, satu, perbuatan terdakwa menimbulkan keresahan yang meluas bagi masyarakat. Dua, sebagai tokoh publik tidak memberi contoh atau teladan yang baik bagi masyarakat,” kata JPU dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) pada Selasa (5/4/2022).

Selain hal yang memberatkan, JPU mengungkapkan faktor yang bisa meringankan hukuman Ferdinand. Ferdinand tercatat tak pernah dipenjara dan bersikap sopan sepanjang persidangan.

“Hal-hal yang meringankan yaitu terdakwa belum pernah dihukum. Kedua, terdakwa menyesali perbuatannya dan bersikap sopan di persidangan,” ujar Jaksa.

Ferdinand dinilai hanya terbukti melanggar Pasal 14 ayat (1) Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana sebagaimana dakwaan pertama primer. Padahal Ferdinand didakwa melakukan tindak pidana ujaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dan menimbulkan keonaran.

Ferdinand lalu didakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (selanjutnya disebut UU ITE) atau Pasal 156a huruf a dan/atau Pasal 156 KUHP.  

Kasus ini mengemuka saat Ferdinand menuliskan kalimat kontroversi di akun Twitter @FerdinadHaean3. Kicauannya viral di media sosial.

“Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, Maha Segalanya. Dia-lah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela,” tulis Ferdinand melalui akun Twitter-nya





Source link

CopyAMP code CopyPlease update your ads.txt file with MGID lines. mgid.com, 302052, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Leave a Reply

Your email address will not be published.